Thursday, February 11, 2010

Talama Ashku Gharami

Qasidah ini mengimbau banyak kenangan. Waktu itu daku masih di zaman persekolahan. Berteleku daku duduk mendagu di kaki tangga sambil mendengar setiap bait yang berkumandang. Qasidah ini sayup-sayup bergema dari masjid yang berdekatan.

Tanpa memahami apa maksudnya, hatiku sayu meruntun mendengarnya. Embun pagi menggigil tidak ku hiraukan. Begitulah keadaan kampungku, walaupun terletak di tengah bandar,setiap hujung minggu, qasidah ini akan kedengaran selepas subuh.

Waktu itu aku tidak kenal makna qasidah. Waktu itu, aku tidak tahu pun bagaimana menamakan alunan ini. Zikir? Selawat?. Baru kini ku tahu ia dikenali sebagai qasidah, kata-kata penyair Arab yang merindui kekasih Allah. Baru kini dapat ku rungkai kata-kata yang selama ini meruntun jiwaku...



English Translation

How long will my heart ache for my Beloved
O you light of the universe
And call out you o Tihami
O you treasure of goodness?

My utmost wish and desire
Is that I may attain to the vision
And see the door of paradise
O you purifier of efforts!

O you crown of creation
I am engrossed with longing and desire
A lover, whose art is praise (of the beloved)
O you full-moon of perfection!

Lift away the burden from me
Love has consumed me and made me weak
To you I put my hope
O you holder of lofty promises!

O you guiding lights of the Prophets
You most highly honoured
O you the leader of God fearing
My heart melts (in front of you!)


Malay Translation

Lama sudah aku menanggung rindu
Wahai cahaya alam yang indah
Serta aku menyeru, wahai Nabi
Wahai punca ilmu yg pemurah

Impianku setinggi tinggi cita-cita
Moga dapat diberikan tuah dapat melihatmu
Juga melihat Bab al Salam (di Masjid Nabawi)
Wahai sesuci suci insan

Wahai hiasan dunia ini
Aku amat cinta dan rindu padamu
Hanya pujian menjadi persembahanku
Wahai bulan mengambang penuh

Jauhkanlah segala penghalangku daripadamu
Yang ku pendam hanya kerinduan terhadapmu
Padamu aku bersangka baik
Wahai yang benar pada janjinya

Wahai pelita sekalian Rasul!
Wahai insan yang mempunyai setinggi-tinggi kedudukan!
Wahai imam orang - orang yang bertaqwa!
Sesungguhnya hatiku terpaut padamu

Ke atasmu, moga Allah mencurahkan rahmat
Tuhanku yang mempunyai keagungan
Cukuplah wahai cahaya Bulan!
Sesungguhnya perpisahanku denganmu telah terlalu lama

Allahumma solli a'ala saidina muhammad s.a.w!

Pahala, musibah, penyakit, kegundahan hati sebagai penghapus dosa


  1. Allah swt juga berfirman : Sungguh amal pahala itu menghapus dosa dosa (QS Hud 114)maka musibah atas dosa di dunia, atau di alam barzakh, atau di akhirat, adalah bagi mereka yg belum bertobat atas dosanya pada Allah. (Sumber)
  2. ketahuilah tiada yg lebih mncintai kita melebihi Allah swt, hanya Dialah swt yg mengasuh kita dengan sabar mulai kita di alam rahim, lalu lahir dan mewakilkan kasih sayang Nya kepada ibunda kita, Dia swt terus mengasuh kita, jika dosa bertumpuk maka Dia swt menaruhkan penyucinya yaitu musibah, penyakit, gundah, dll yg kesemuanya itu penghapus dosa sebagaimana belasan hadits shahih riwayat Imam Bukhari dalam shahih nya dan Imam Muslim dalam shahihnya, bahwa semua musibah bahkan kegundahan hatipun merupakan penghapusan dosa.Lihatlah bagaimana Allah swt membayar semua kesedihan kita dengan penghapusan dosa, Dia tak menyisakan sesuatu yg tidak kita sukaipun kecuali diberi Nya ganti yg termahal, yaitu menghapus dosa, agar hamba Nya bisa menikmati sorga Nya yg abadi kelak.lalu Dia Allah swt melihat kita yg lemah dan malas malasan beribadah, maka Dia swt memanjakan kita dengan mengganjar setiap pahala menjadi 10 X lipatnya, dan setiap dosa hanya ditulis 1 dosa.

    Lalu Dia Allah swt bersabar menahan diri dari kejahatan kita kepada Nya, Dia Allah swt terus mengharap cinta kita yg tak kunjung datang pada Nya swt..

    ketika seorang hamba shalat lalu dalam shalatnya ia berpaling/melirik sesuatu, maka Allah swt berkata : “kau palingkan pada siapa pandanganmu wahai hamba Ku..?,

    demikian cemburunya Allah swt kepada kita, Dia Allah swt terus bersabar pada perbuatan kita yg tidak pernah perduli pada perasaan Nya, dan tak pernah mau merindukan Nya,

    Rasul saw bersabda : Tiada yg lebih sabar dan baik dari Allah, difitnah, didustakan, dan dikatakan mempunyai anak, namun Dia swt masih memberi rizki dan tidak merenggut anugerah Nya pada mereka,

    hingga ketika datang hari kiamat, Allah menyeru hamba hamba Nya sebagaimna dijelaskan pada surat Al Infithar : “Wahai Hamba hamba Ku, apa yg membuat kaliang meninggalkan Tuhanmu yg Pemurah?, yg menciptamu dan memberi tubuh?…”

    nah…, ketika seseorang mempunyai kebutuhan, yg tentunya tak ada artinya disisi Allah, maka sering Allah swt cemburu, mengapa hamba Ku tak ingin dekat pada Ku?, mengapa hamba Ku tak meminta agar didekatkan pada Ku?, maka ketika sangat dahsyatnya hamba Nya memaksa dan meminta dengan shalat hajat dlsb, maka Allah swt semakin tak ingin memberi, seakan akan berkata : “betapa hebatnya semangat dan cintamu pada hajatmu itu, dan teruslah kau tak terlintas untuk menjawab cinta Ku..?, (Sumber)

  3. musibah musibah adalah merupakan rahmat Nya swt, sebagaimana sabda nabi saw bahwa setiap musibah bagi ummat beliau saw adalah penghapusan dosa, maka bertanya Aisyah ra : “wahai Rasulullah.., jika semua musibah adalah menghapus dosa, apakah seorang tertusuk duri juga ada penghapusan dosanya?, maka rasul saw menjawab : Betul, bahkan kegundahan hati pun merupakan penghapusan dosa. (shahih Bukhari)saudariku, tenanglah, sungguh kehidupan ini sementara, tak ada musibah yg abadi, dan tak ada kenikmatan dunia yg abadi pula.sungguh Allah membayar setiap kesusahan dg limpahan anugerah berlipat ganda, sebagaimana sabda Nabi saw : “Barangsiapa yg wafat 3 anaknya, maka Allah haramkan orang tuanya dari neraka”, maka para nisa bertanya : bagaimana kalau dua?, maka Rasul saw menjawab : “bahkan dua pun demikian”, (Shahih Bukhari).

    maka jelaslah sudah bagaimana Allah tak membiarkan kesedihan yg menimpa hamba Nya lewat begitu saja, namun duka mereka diganjar dg anugerah anugerah agung..

    tiada artinya kesedihan ditinggal wafat dua orang anak, dibanding kebahagiaan tiada tara nan abadi.

    demikian pula kesedihan kesedihan lainnya.. dan Allah itu sangat dekat pada hamba hamba Nya yg sedang dalam kesedihan dan duka.

    saudariku, larilah kepada Allah..

    diriwayatkan bahwa seorang pendosa yg diusir dari kampungnya di masa Nabi Musa as, maka ia dibuang ke padang tandus seorang diri, dimusuhi oleh seluruh keluarga dan temanya..

    ia roboh dan menangis kepada Allah dan berdoa : “Wahai Tuhanku, aku sudah dipisahkan dari seluruh keluarga dan kekasih, bahkan anak anakku pun tak lagi mau mengakui aku sebagai ayahnya.., maka tinggallah Engkau wahai Tuhanku.. jangan tinggalkan aku.. aku bertobat dari segala dosa ini..

    maka iapun wafat..

    lalu Allah memerintahkan Musa as untuk keluar bersama seluruh masyarakat untuk menguburkan jenazahnya., dan Allah memuliakan hamba Nya itu dengan menjadikannya wali Allah, Musa as bertanya bahwa bukankah hamba itu hanya pendosa yg selalu bermaksiat?, maka Allah menjawab : wahai Musa, ia telah mencintaiku, ia ditinggal oleh seluruh kekasihnya dan ia kembali pada kecintaan pada Ku dan bertobat, maka Aku memuliakan semua para tamu Ku.

    Allah swt berfirman : “Manusia tidak tahu apa apa yg kusembunyikan dari hal hal yg sangat menggembirakan mereka, balasan atas kebaikan mereka” (QS Assajdah)

    wahai saudariku, tersenyumlah untuk menjelang segala anugerah dan kebahagiaan dari Yang Maha menyiapkan anugerah untuk membalas kesedihanmu ini.. (Sumber)

February 19th, 2010 at 12:40

Monday, February 8, 2010

Top Ten Things to Think About If You Want to Change the World

By Michael Angier

Mahatma Gandhi believed that we must be the change we want to see in the world. This was well demonstrated when he helped India gain its independence. Gandhi was a revolutionary man, but he accomplished India's emergence as a nation without starting a revolution. In fact, he advocated no violence. One of the most powerful countries in the world yielded to the commitment of one man and the dream of millions.

What change can we effect? What's the difference we want to make in the world?

Gandhi said, "In a gentle way you can shake the world." Here are some things to think about how to do just that …

1. Know that all significant change throughout history has occurred not because of nations, armies, governments and certainly not committees. They happened as a result of the courage and commitment of individuals. People like Joan of Ark, Albert Einstein, Clara Barton, Abraham Lincoln, Thomas Edison and Rosa Parks. They might not have done it alone, but they were, without question, the change makers.

2. Believe that you have a unique purpose and potential in the world. It's not so much something to create as to be discovered. And it's up to you to discover it. Believe that you can and will make a difference.

3. Recognize that everything you do, every step you take, every sentence you write, every word you speak-or DON'T speak--counts. Nothing is trivial. The world may be big, but there are no small things. Everything matters.

4. To be the change you want to see in the world, you don't have to be loud. You don't have to be eloquent. You don't have to be elected. You don't even have to be particularly smart or well educated. You do, however, have to be committed.

5. Take personal responsibility. Never think "it's not my job". It's a cop-out to say, "What can I do, I'm only one person." You don't need everyone's cooperation or anyone's permission to make changes. Remember this little gem, "If it's to be, it's up to me."

6. Don't get caught up in the how of things. If you're clear on what you want to change and why you want to change it, the how will come. Many significant things have been left undone because someone let the problem solving interfere with the decision-making.

7. Don't wait for things to be right in order to begin. Change is messy. Things will never be just right. Follow Teddy Roosevelt's timeless advice, "Do what you can, with what you have, where you are."

8. The genesis for change is awareness. We cannot change what we don't acknowledge. Most of the time, we aren't aware of what's wrong or what's not working. We don't see what could be. By becoming more aware, we begin the process of change.

9. Take to heart these words from Albert Einstein--arguably one of the smartest change masters who ever lived: "All meaningful and lasting change starts first in your imagination and then works its way out. Imagination is more important than knowledge."

10. In order for things to change, YOU have to change. We can't change others; we can only change ourselves. However, when WE change, it changes everything. And in doing so, we truly can be the change we want to see in the world.

The following is inscribed on the tomb of an Anglican Bishop in Westminster Abby (1100 A.D.) …

When I was young and free and my imagination had no limits, I dreamed of changing the world. As I grew older and wiser, I discovered the world would not change, so I shortened my sights somewhat and decided to change only my country.

But it, too, seemed immovable.

As I grew into my twilight years, in one last desperate attempt, I settled for changing only my family, those closest to me, but alas, they would have none of it.

And now, as I lie on my deathbed, I suddenly realize: If I had only changed myself first, then by example I would have changed my family.

From their inspiration and encouragement, I would then have been able to better my country, and who knows, I may have even changed the world.

Since my 10-point list above was inspired by Gandhi's belief, it seems appropriate to end with another of his quotes: "Consciously or unconsciously, every one of us does render some service or other. If we cultivate the habit of doing this service deliberately, our desire for service will steadily grow stronger and we will make not only our own happiness, but that of the world at large."

Don't Want Much, Just Want Everything?

A comedian of the 70's and 80's once wrote...

The paradox of our time in history is that we have taller buildings but shorter tempers, wider Freeways , but narrower viewpoints. We spend more, but have less, we buy more, but enjoy less. We have bigger houses and smaller families, more conveniences, but less time. We have more degrees but less sense, more knowledge, but less judgment, more experts, yet more problems, more medicine, but less wellness.

We drink too much, smoke too much, spend too recklessly, laugh too little, drive too fast, get too angry, stay up too late, get up too tired, read too little, watch TV too much, and pray too seldom.

We have multiplied our possessions, but reduced our values. We talk too much, love too seldom, and hate too often.

We've learned how to make a living, but not a life. We've added years to life not life to years. We've been all the way to the moon and back, but have trouble crossing the street to meet a new neighbor. We conquered outer space but not inner space. We've done larger things, but not better things.

We've cleaned up the air, but polluted the soul. We've conquered the atom, but not our prejudice. We write more, but learn less. We plan more, but accomplish less.. We've learned to rush, but not to wait.. We build more computers to hold more information, to produce more copies than ever, but we communicate less and less.

These are the times of fast foods and slow digestion, big men and small character, steep profits and shallow relationships. These are the days of two incomes but more divorce, fancier houses, but broken homes. These are days of quick trips, disposable diapers, throwaway morality, one night stands, overweight bodies, and pills that do everything from cheer, to quiet, to kill. It is a time when there is much in the showroom window and nothing in the stockroom. A time when technology can bring this letter to you, and a time when you can choose either to share this insight, or to just hit delete...

Remember; spend some time with your loved ones, because they are not going to be around forever.

Remember, say a kind word to someone who looks up to you in awe, because that little person soon will grow up and leave your side.

Remember, to give a warm hug to the one next to you, because that is the only treasure you can give with your heart and it doesn't cost a cent.

Remember, to say, ' I love you ' to your partner and your loved ones, but most of all mean it. A kiss and an embrace will mend hurt when it comes from deep inside of you.

Remember to hold hands and cherish the moment for someday that person will not be there again.

Give time to love, give time to speak! And give time to share the precious thoughts in your mind.

AND ALWAYS REMEMBER:

Life is not measured by the number of breaths we take, but by the moments that take our breath away.

George Carlin

p/s Dunia, kalau letaknya di jiwa, terasa sayang melepaskannya...(Afnie)

Sunday, February 7, 2010

CINTA ITU BUKAN TUHAN!

(Sumber: http://www.pyzam.com/graphics/details/9679)


Oleh: Pahrol Md Juoi (http://genta-rasa.com)

Seorang suami pernah meluahkan rasa hatinya kepada saya. Yakni tentang gangguan perasaan yang dialaminya. Dia diusik kenangan lama apabila bertemu dengan bekas kekasihnya semula. Entah kenapa perasaan cinta mereka seakan berputik kembali. “Kami terlalu cinta. Malangnya kami tidak ada jodoh. Kami terpaksa berpisah dan kemudiannya menemui jodoh masing-masing.”

Dia mengadu setelah hampir sepuluh tahun, tidak sangka hatinya masih berbunga cinta. Dan ajaibnya cinta, ia tidak mengenal usia. Sedangkan kini dia sudah punya dua orang anak dan kekas kekasihnya pun ada seorang anak. Masing-masing sudah punya keluarga. “Apa masalahnya?” tanya saya seperti sukar memahaminya. Dia kemudian mengakuinya bahawa bekas kekasihnya pun rupa-rupanya juga masih mencintainya.

Cinta bukan Tuhan, itulah jawapan pendek yang saya berikan padanya. Saya tegaskan tidak semua kehendak cinta mesti kita patuhi. Bila cinta melanggar batas-batas rasional, nilai-nilai kemanusiaan dan yang paling utama melanggar syariat, kehendaknya mesti dihentikan. Saya ingatkan kepadanya, pertimbangkanlah bagaimana nasib isteri dan anak-anaknya nanti jika kehendak cinta yang “gila” itu dipenuhi. Pergi memburu cinta yang tidak pasti, lalu meninggalkan anak-anak dan isteri yang diamanahkan Allah… Berbaloikah?

Dan yang paling utama, bagaimana pula hukum Allah yang akan dilanggar jika hubungan terlarang (haram) itu diteruskan. Mencinta isteri dan suami orang adalah haram. Curang itu khianat. Khianat itu adalah antara ciri kemunafikan. Ya, cinta memang buta, tetapi orang yang bercinta (lebih-lebih lagi orang beriman) jangan pula sampai buta mata hati untuk mengawal dan mengendalikan rasa cinta. Demi cinta sanggup berdosa? Demi cinta sanggup menempah neraka? Fikir dan zikirkanlah (ingatkanlah)!

Malangnya, begitulah realitinya kini. Cinta dimertabatkan terlalu agung dan disanjung membumbung… Demi cinta segala-galanya berani diterjah dan sanggup diredah. Tidak percaya? Bacalah masalah-masalah masyarakat yang dipaparkan di dada akhbar atau majalah. Isteri jatuh cinta pada suami orang. Suami jatuh cinta kepada wanita lain dan rela meminggirkan isteri sendiri. Bila ditanya kenapa? Kebanyakannya menjawab, “apa boleh buat, kami sudah jatuh cinta!”

Inilah gara-gara dan bahananya menonton filem cinta versi Bollywood, Hollywood atau filem-filem “yang sewaktu dengannya”. Inilah impak lagu-lagu cinta yang menyumbat telinga dan menyempitkan jiwa. Secara tidak sedar filem-filem dan lagu-lagu itu telah menawan “akal bawah sedar” sesetengah masyarakat, bukan sahaja remaja, bahkan “retua” hingga sanggup menobatkan cinta sebagai Tuhan dalam kehidupan.

Lihat sahaja bagaimana hero dan heroin dalam filem-filem tersebut sanggup melepasi apa jua halangan demi penyatuan cinta mereka. Pengorbanan demi cinta disanjung dan dipuja walaupun jelas melanggar tatasusila dalam beragama. Kerap kali ibu-bapa dipinggirkan, kononnya kerana menghalang kehendak cinta. Apa sahaja plot dan klimaks cerita, cinta akan dimenangkan. Seolah-olah tujuan hidup manusia hanya semata-mata untuk cinta!

Mari kita renung sejenak. Cuba tanyakan siapakah yang mengurniakan rasa cinta di dalam hati setiap manusia? Tentu sahaja jawabnya ialah Allah. Allah mencipta manusia, hati, akal dan perasaannya. Cinta itu fitrah yang dikurniakan Allah pada setiap hati. Lalu kita tanyakan lagi untuk apakah Allah berikan naluri cinta ini?

Untuk mengetahui apa tujuan cinta kita perlu kembali kepada persoalan asas, untuk apa manusia dijadikan? Ini adalah kerana semua yang diberikan Allah kepada manusia adalah untuk memudahkan manusia menjalankan tujuan ia diciptakan oleh Allah. Apakah tujuan Allah menciptakan manusia? Tidak lain, hanya untuk menjadi hamba Allah dan khalifah di muka bumi ini.

Ini ditegaskan sendiri oleh Allah melalui firman-Nya:
“Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk menjadi hamba (beribadah) kepada-Ku.” (Al Dhariyat 51: 56)

Dan Allah menegaskan lagi:
“Kami jadikan di muka bumi manusia sebagai khalifah.”

Dua tujuan penciptaan manusia ini adalah amanah yang sangat berat. Allah menegaskan lagi:
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, namun semuanya enggan memikul amanat itu kerana mereka khuatir mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu tersangat zalim dan jahil.” (Al Ahzab:72)

Sebagai hamba Allah, manusia perlu mengabdikan dirinya kepada Allah setiap masa, ketika dan di mana sahaja. Ia perlu menjadi manusia yang baik melalui ibadah-ibadah fardu Ain yang diwajibkan secara personel oleh Allah ke atas dirinya. Dan sebagai khalifah di muka bumi, manusia perlu mengurus, mentadbir dan memakmurkan muka bumi ini berpandukan hukum-hakam Allah s.w.t. Ini adalah tanggung-jawab yang berat dan memerlukan penyertaan orang lain bersama-sama untuk dilaksanakan. Kebanyakannya amalan berbentuk fardu kifayah ini memerlukan tenaga jemaah.

Allah swt Maha Mengetahui akan kelemahan manusia. Dua tujuan yang besar penciptaan manusia itu tidak boleh dipikul secara bersendirian. Justeru, awal-awal lagi manusia ujud secara “co-existance” (ujud secara bersama). Kebersamaan ini sangat perlu untuk memberi kekuatan bagi memikul tujuan hidup yang sangat besar dan berat itu. Dan titik awal perpaduan antara seorang manusia dengan seorang manusia yang lain ialah hubungan suami-isteri yang membentuk sebuah keluarga.

Keluarga adalah nukleus yang pertama dalam hubungan sesama manusia. Daripada sebuah keluarga terbentuklah masyarakat, daripada penyatuan masyarakat terbentuklah daerah, negeri, negara dan akhirnya dunia kehidupan yang lebih besar dan luas. Lihatlah bagaimana segala bentuk perhubungan itu semuanya berasal daripada hubungan seorang lelaki (suami) dan seorang wanita (isteri).

Maha suci Allah yang menyatukan manusia dalam pakej-pakej perhubungan yang bernama keluarga, masyarakat, daerah, negeri, negara dan dunia antarabangsa. Semua itu untuk apa? Ya, untuk bersatu bagi menjalankan peranan mereka sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Tugas yang berat dan mencabar itu akan terasa lebih mudah jika dipikul bersama-sama. Tanpa hubungan dan bantuan daripada orang lain, manusia tidak akan terpikul amanah yang besar itu.

Sesungguhnya, untuk memulakan tapak asas atau benih permulaan hubungan antara manusia dengan manusia itulah Allah ciptakan rasa cinta. Allah datangkan rasa rindu, sepi dan inginkan teman di dalam hati Nabi Adam. Pada hal Nabi Adam tinggal di syurga – tempat terhimpunnya segala nikmat dan keindahan.

Namun, tanpa seorang “teman wanita”, Nabi Adam masih terasa kesepian jua. Allah jugalah yang mengurniakan rasa itu, untuk menjadi sebab terbentuk hubungan suami-isteri yang kemudiannya menjadi sebab pula lahirlah zuriat demi zuriat yang melahirkan generasi manusia.

Dan kemudian datanglah musim ujian. Cinta mereka berdua terpisah ketika “tercampak” ke alam dunia. Setelah sekian lama cinta mereka terpisah (sebagai kafarah satu kesalahan), akhirnya mereka bertemu di padang Arafah. Dan dari situlah bergabunglah jiwa, minda, perasaan dan tenaga mereka berdua untuk menjalankan peranan sebagai hamba Allah dan khalifah di dunia.

Cinta itu bukan tujuan… Cinta itu hanya jalan. Cinta itu bukan matlamat, cinta itu cuma alat. Rasa ingin mencintai dan dicintai dalam diri setiap manusia pada hakikatnya adalah untuk membolehkan manusia melaksanakan tujuan ia diciptakan. Cinta itu mengikat hati antara lelaki dengan wanita untuk sama-sama membentuk ikatan perkahwinan demi menyempurnakan agama. Justeru kerana itulah Rasulullah s.a.w telah bersabda: “Barang siapa yang berkahwin maka sempurnalah separuh agamanya, tinggal separuh lagi untuk dilaksanakan.”

Cinta memang penting, tetapi ibadah dan menegakkan hukum Allah jauh lebih penting. Sayangnya, hakikat ini sangat jarang difahami dan dihayati oleh orang yang bercinta. Tujuan cinta sering dipinggirkan. Ibadah dan hukum Allah yang tinggi dan suci telah dipinggirkan hanya kerana cinta. Kononnya, cinta itu sangat suci dan tinggi.

Mungkin rasa seperti itulah yang berbunga di dalam jiwa si suami yang diimbau nostalgia cinta lama oleh bekas kekasihnya yang saya sebut pada awal tulisan ini. Kerana cinta, terdetik dalam hatinya untuk bersama bekas kekasih walaupun terpaksa mengorbankan anak dan isterinya. Mungkin rasa cinta itulah juga yang menyebabkan ramai wanita mengorbankan kehormatan diri kepada kekasih hati demi membuktikan ketulusan cintanya. Mungkin kerana itulah juga seorang anak sanggup berpisah dengan ibu-bapanya demi memburu cinta.

Bertuhankan cinta samalah bertuhankan hawa nafsu. Bila tujuan suci dan hakiki dipinggirkan, timbullah tujuan keji dan ilusi sebagai ganti. Sering terjadi nafsu seks dijadikan tujuan di sebalik rasa cinta. Cinta yang berbaur dengan kehendak seks inilah yang pernah dikecam oleh Al Farabi dengan katanya: “Cinta yang berlandaskan nafsu seks adalah cinta yang diilhamkan oleh Tuhan kepada haiwan!”

Ironinya, ada yang berkata, “Lelaki memberi cinta untuk mendapatkan seks. Wanita memberi seks untuk mendapatkan cinta.” Eksploitasi dan manipulasi cinta ini tidak akan memberi kebahagiaan kepada sesiapa – baik kepada lelaki mahupun kepada wanita. Lelaki yang mendapat seks dengan memperalatkan cinta, tidak akan pernah puas. Kehendak nafsu tidak terbatas dan tidak akan pernah puas. Melayani nafsu, umpama minum air laut… semakin diminum, semakin haus. Manakala wanita yang memberi seks, kononnya untuk mendapat cinta, tidak akan mendapat cinta yang sejati. Mereka hanya akan menemui kasanova dan lelaki hidung belang yang hanya cinta sebelum dapat apa yang diidamkan, tetapi tunggulah sebaik sahaja habis manis sepahnya dibuang. Wanita-wanita malang ini bukan hanya kehilangan cinta, tetapi hilang maruah, kehormatan dan harga diri.

Letakkanlah cinta sebagai alat untuk beribadah kepada Allah. Ujudkanlah rumah tangga bahagia yang menjadi wadah tertegaknya kalimah Allah.

SYURGA RUMAHTANGGA

Binalah rumah-tangga di tapak iman
Tuluskan niat luruskanlah matlamat
Suami pemimpin arah tujuan
Isteri pembantu sepanjang jalan
Lalu mulakanlah kembara berdua
Kerana dan untuk… Allah jua

Di tapak iman dirikanlah hukum Tuhan
Iman itu tujuan Islam itu jalan
tempat merujuk segala kekusutan
tempat mencari semua penyelesaian
rumah jadi sambungan madrasah
berputiklah mawaddah…
berbuahlah rahmah

Inilah kunci kebahagiaan rumah-tangga
setia dan penyayang seorang suami
cinta dan kasih seorang isteri
Lalu berbuahlah mahmudah demi mahmudah
lahirlah zuriat yang soleh dan solehah!

Monday, October 19, 2009

Palestin itu Jauh Dari Kita



Palestin itu jauh dari kita

Pada kita derita itu
pada gagalnya peperiksaan
laparnya perut pada makanan
putusnya cinta pada kekasih pujaan
jauhnya ibu ayah dari dakapan
juga habisnya duit dalam bekalan


Pada mereka derita itu
Apabila rumah kediaman digesel trak
Harta benda serba serbi dirompak
maruah keluarga dipijak-pijak
anak bini dicincang oleh manusia tak berotak
tanah air Islam diinjak-injak


irama kita
adalah suara siti yang merdu
atau muzik rock yang bingit melegakan
atau suara nasyid yang mendayu-dayu


irama mereka
bulddozer yang menghiasi setiap pagi
ketulan batu yang dicampak ke muka yahudi
Bom yang tak pernah sunyi berbunyi


sungguh sukar kita berada di tempat mereka
kita masih tak sanggup menerima ujian sedemikian mereka


berpisahnya kita dari keluarga cuma sementara
berpisahnya mereka dengan ayah,ibu, adik beradik adalah buat selama-lamanya


tanggisnya kita di dunia adalah kerana gagalnya kita dalam ujian
putusnya cinta atau geramnya pada manusia
tanggisnya mereka di dunia kerana tidak dapat membunuh musuh Allah
kerana gagalnya mereka menemui kesyahidan


Rindu kita hanya bauan pada keluarga tercinta
Pada kekayaan melimpa ruah
pada umur yang panjang
agar keluarga kita lebih makmur membahagiakan


Rindu mereka pada wangian syurga tertinggi…
pada syahid tanpa henti
pada perjumpaan teragung
dengan Ilahi tercinta…


Siapakah kita berbanding mereka?


25 May 06
Muharikah




Friday, August 21, 2009

Senangkanlah Hatimu

(Oleh Al-Anisah Mai) dipetik dalam Prof. Dr. Hamka (1996). Tasawuf Moden. Kuala Lumpur: Darul Nu’man. Halaman 337-343.

Kalau engkau kaya, senangkanlah hatimu! Kerana dihadapanmu terbentang kesempatan untuk menunaikan yang sulit-sulit. Segala perbuatanmu dihargai orang, engkau beroleh pujian di mana-mana. Engkau menjadi mulia, tegakmu teguh. Di hadapan engkau terhampar permaidani kepujian, sebab itu engkau beroleh kebebasan dan kemerdekaan.

Jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Kerana engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang selalu menimpa orang kaya. Senangkanlah hatimu kerana tiada orang yang akan hasad dan dengki kepada engkau lagi,lantaran kemiskinanmu. Kefakiran dan kemiskinan adalah nikmat, yang tidak ada jalan bagi orang lain buat kecil hati, dan tidak ada pintu bagi kebencian.Justify Full

Kalau engkau dermawan, senangkanlah hatimu! Kerana dengan kedermawanan engkau dapat mengisi tangan yang kosong, telah dapat menutup tubuh yang bertelanjang, engkau tegakkan orang yang telah hampir roboh. Dengan sebab itu engkau telah menuruti perintah hatimu dan engkau beroleh bahagia: Berpuluh bahkan beratus makhluk Tuhan akan menghantarkan pujian kepada Tuhan lantaran pertolonganmu. Kesenangan hatimu yang tadinya cuma satu, sekarang akan berlipat ganda, sebab banyak orang yang telah mengecap nikmatnya.

Kalau engkau tidak kuasa jadi dermawan, itupun senangkan pulalah hatimu! Sebab engkau tidak akan bertemu dengan suatu penyakit yang selalu menular kepada masyarakat manusia, iaitu tiada membalas guna, penghilangkan jasa. Mereka ambil kebaikan budi dan kedermawananmu itu jadi senjata untuk menjatuhkan tuduhan-tuduhan yang rendah. Saat yang demikian pasti datang kepada tiap-tiap dermawan, yang menyebabkan hati kerapkali patah dan badan kerapkali lemah, sehingga hilang kepercayaan kepada segenap manusia, disangka manusia tidak pembalas guna. Padahal langkah belum sampai lagi kepada puncak kebahagiaan dan beroleh ampunan dari Tuhan.

Kalau engkau masih muda remaja senangkanlah hatimu! Kerana pohon pengharapanmu masih subur, dahan-dahannya masih rendang dan rimbun. Tujuan kenang-kenangan masih jauh.Sebab umurmu masih muda, mudahlah bagimu menjadikan mimpi menjadi kenyataan yang sebenarnya.

Kalau engkau telah tua, senangkan pulalah hatimu! Kerana engkau telah terlepas dari medan pertempuran dan perjuangan yang sengit, dan engkau telah beroleh beberapa ilmu yang berguna di dalam sekolah hidup. Engkau telah tahu firasat, mengerti gerak geri manusia dan tahu ke mana tujuan jalan yang ditempuhnya. Oleh sebab itu segala pekerjaan yang engkau kerjakan itu kalau engkau suka lebih banyak akan membawa faedah dan lebih banyak tersingkir daripada bahaya. Satu detik daripada umurmu di masa tua, lebih mahal harganya daripada bertahun-tahun di zaman muda, sebab semuanya telah engkau lalui dengan pandangan yang terang dan pengalaman yang pahit.

Kalau engkau dari turunan yang mulia-mulia, tenangkanlah hatimu! Kerana dirimu tergambar dan terpeta di dalam hati tiap-tiap sahabat itu. Kalau engkau memang di dalam kalangan sahabat yang banyak itu, lazat rasanya kemenangan dan kalau kalah tidak begitu terasa. Lantaran banyaknya orang yang menghargai dan memperhatikan engkau, engkau dapatlah insaf, tandanya dirimu mahal dan timbanganmu berat.Yang penting adalah engkau dapat keluar dari penyakit mementingkan diri seorang, memandang hanya engkau yang benar, lalu masuk ke dalam daerah yang baru, iaitu mengakui bahawa ada lagi orang lain yang pintar, yang berfikir dan kuasa menimbang.

Jika musuhmu banyak, senangkan pulalah hatimu! Kerana musuh-musuh itu ialah anak tangga untuk mencapai kedudukan yang tinggi. Banyak musuh menjadi bukti atas sulitnya pekerjaan yang engkau kerjakan.Tiap-tiap bertambah maki celanya kepada engkau, atau hasad dengkinya, atau mulutnya yang kotor atau perangainya yang keji, bertambahlah teguhnya pendirianmu bahawa engkau bukan barang murah, tetapi barang mahal, dari celaannya yang benar-benar mengenai kesalahanmu, engkau dapat beroleh pelajaran. Mula-mula maksudnya hendak meracunimu dengan serangan-serangannya
yang kejam dan keji, maka oleh engkau sendiri, engkau saring racun itu dan engkau ambil untuk pengubat dirimu mana yang berfaedah, engkau buangkan mana yang salah. Ingatlah: Pernahkah seekor burung helang yang terbang membubung tinggi memperdulikan halangan burung layang-layang yang menghalanginya?

Kalau badanmu sihat, senangkanlah hatimu! Tandanya telah ternyata pada dirimu kekayaan Tuhan dan kemuliaan nikmatNya, lantaran badan yang sihat, mudahlah engkau mendaki bukit kesusahan dan menempuh padang kesulitan.

Kalau engkau sakit, senangkan pulalah hatimu! Kerana sudah ternyata bahawa dirimu adalah medan tempat perjuangan di antara dua alam yang dijadikan Tuhan iaitu kesihatan dan kesakitan. Kemenangan akan terjadi kepada salah satu yang kuat, kesembuhan mesti datang sesudah perjuangan itu, baik kesembuhan dunia ataupun kesembuhan yang sejati.

Kalau engkau menjadi orang luar biasa, senangkan hatimu! Kerana pada tubuhmu terdapat cahaya yang terang-benderang tandanya Tuhan selalu melihat engkau dengan tenang sehingga menimbulkan kesuburan dalam fikiranmu, dilihatNya otakmu sehingga cerdas, dilihatNya matamu sehingga jadi azimat, dilihatNya suaramu sehingga jadi sihir. Bagi orang lain, perkataan dan tiap-tiap suku kalimat yang keluar dari mulutnya hanya menjadi tanda bahawa dia hidup saja. Tapi bagi dirimu sendiri menjadi cahaya yang berapi dan bersemangat, boleh meninggikan, boleh memuliakan dan menghinakan, sehingga bolehlah engkau berkuasa berkata kepada alam: “Adalah”, sehingga diapun “ada”.

Kalau engakau dilupakan orang, kurang dikenal, senangkan pulalah hatimu! Kerana lidah tidak banyak yang mencelamu mulut tidak banyak mencacatkanmu, tidak ada orang lain yang dengki kepadamu, tak ada orang yang meniatkan jatuhmu, mata tak banyak memandangmu. Itu, dihadapanmu ada puncak bukit dan engkaupun salah seorang dari anggota masyarakatmu. Rumah batu yang indah, berdiri di atas kumpulan tanah dan pasir-pasir yang kecil. Dengan demikian itu, engkau akan merasai kesenangan hati yang kerapkali tidak didapat oleh yang bibirnya tak pernah merasai air hidup dan rohnya tak pernah mandi di dalam kolam ilham.

Kalau sahabatmu setia kepadamu, tenangkanlah hatimu! Kerana pertukaran siang dan malam telah menganugerahi engkau kekayaan yang paling kekal.

Kalau kawanmu khianat, senangkan juga hatimu! Sebab kalau kawan-kawan yang khianat itu mungkir dan meninggalkan engkau, tandanya dia telah memberikan jalan yang lapang buat engkau.

Kalau tanah airmu dijajah atau dirimu diperhambakan, senangkanlah hatimu! Sebab penjajahan dan perhambaan membuka jalan bagi bangsa yang terjajah atau diri yang diperhamba kepada perjuangan melepaskan diri dari belenggu. Itulah perjuangan yang menentukan hidup atau mati, dan itulah yang meninggalkan nilai. Ketahuilah bahawa tidaklah didapat suatu bangsa yang terus menerus dijajah.

Jika engkau dari bangsa merdeka, senangkanlah hatimu! Sebab engkau duduk sama rendah dan tegak sama tinggi dengan bangsa-bangsa yang lain, ada bagimu kesempatan mencari kekuatan baru. Kemerdekaan itu mesti diisi dengan bahan-bahan yang baik, dan bagimu terbuka kesempatan yang seluas-luasnya untuk itu.

Kalau engkau hidup dalam kalangan orang-orang yang kenal akan diri dan cita-cita engkau, senangkan hatimu! Kerana di sana engkau dapat mengusahakan tenaga muda
setiap hari, dan kekuatan pun bertambah, roh serta semangat menjadi baru. Engkau bertambah subur dan tegak, menaungi lautan dan daratan.

Kalau engkau hidup dalam kalangan masyarakat yang masih rendah, yang tidak mengerti bagaimana menghargai cita-cita orang, sehingga engkau merasa ’sial-dangkal’, maka senangkanlah hatimu! Kerana dengan sebab itu engkau beroleh kesempatan jadi burung, lebih tinggi terbangmu daripada orang-orang yang patah sayap itu. Engkau boleh melayang ke suatu langit khayal, untuk mengubati fikiranmu yang gelisah, untuk melepaskan dahaga jiwamu.

Kalau engkau dicintai orang dan mencintai, senangkanlah hatimu! Tandanya hidupmu telah berharga, tandanya engkau telah masuk daftar orang yang terpilih. Tuhan telah memperlihatkan belas kasihan-Nya kepadamu lantaran pergaduhan hati sesama makhluk. Dua jiwa di seberang masyrik dan maghrib telah terkongkong di bawah satu perasaan di dalam lindungan Tuhan. Di sanalah waktunya engkau mengetahui rahsia perjalanan matahari di dalam falak, ketika fajarnya dan terbenamnya, tandanya Tuhan telah membisikkan ketelingamu nyanyian alam ini. Lantaran yang demikian dua jiwa berenang di langit khayal, di waktu orang lain terbenam. Keduanya berdiam di dalam kesukaan dan ketenteraman, bersenda gurau di waktu bersunggguh-sungguh.

Jika engkau mencinta tetapi cintamu tidak terbalas, senangkanlah hatimu! Kerana sesungguhnya orang yang mengusir akan jatuh kasihan dan ingin kembali kepada orang yang diusirnya itu setelah ia jauh dari matanya, dia akan cinta, cinta yang lebih tinggi darjatnya daripada cinta lantaran hawa. Terpencil jauh membawa keuntungan insaf, kebencian meruncingkan cita-cita dan membersihkan perbuatan. Sehingga lantaran itu hati akan bersih laksana bejana kaca yang penuh berisi air khulud, air kekal yang dianugerahkan Tuhan. Dengan sebab itu, engkau akan beroleh juga kelak tempat merupakan cinta itu, kalau tak ada pada insan, akan ada pada yang lebih kekal daripada insan. Bersedialah menerima menyuburkan cinta, walau bagaimana besarnya tanggunganmu, kerana cinta memberi dan menerima, cinta itu gelisah tetapi membawa tenteram. Cinta mesti lalu di hadapanmu, sayang engkau tak tahu bila lalunya. Hendaklah engkau menjadi orang besar, yang sanggup memikul cinta yang besar. Kalau tak begitu, engkau akan beroleh cinta yang rendah dan murah, engkau menjadi pencium bumi, engkau akan jatuh ke bawah, tak jadi naik ke dalam benteng yang kuat dan teguh, benteng yang gagah perkasa yang sukar tertempat oleh manusia biasa. Kerana tugu cita-cita hidup ini berdiri di seberang kekuasaan dan kemelaratan yang diletakkan oleh kerinduan kita sendiri.

Merasa tenteramlah selalu, senangkanlah hatimu atas semua keadaanmu, kerana pintu bahagia dan ketenteraman itu amat banyak tak terbilang kesulitan perjalanan hidup kian minit, kian baru.

Merasa senanglah selalu!

Ya Allah.. senangkanlah hatiku....selalu.. padaMu..